Hong Ulun Basuki Langgeng
Berdasarkan Lontar Purwa Bumi Kamulan yang ada ditengger dan legenda yang berkembang di masyarakat serta mantra yang masih dilestarikan dahulu kala terdapat gunung Tengger yang di sebelahnya terdapat gunung kecil, lalu gunung Tengger itu meletus dan menjadilah gunung Bromo sekarang ini sedangkan gunung kecil tersebut menjadi lebih tinggi dari gunung Tengger yang telah meletus yang di kenal dengan gunung Semeru/ Mahameru. Dalam sejarah Hindu Dewa tertinggi berstana di Mahameru puncak Himalaya. Maka dari itu gunung kecil tersebut diberi nama gunung Semeru/ Mahameru yang merupakan tempat berstananya dewa tertinggi dalam hindu.
Sebelum nama Tengger kawasan Tengger bernama Arga Wulan yang berarti gunung cantik setelah itu kawasan Arga Wulan berkembang menjadi sebuah desa yang memiliki struktur desa bernama desa Walandit. Setelah desa Walandit berkembang lagi menjadi desa Keduwung yang merupakan tempat orang yang sudah terlepas dari ikata duniawi dan memusatkan diri pada pemujaan terhadap Dewa. Desa keduwung merupakan desa tertua di Tengger dan masih ada sampai saat ini.
Nama Tengger berasal dari Joko Seger dan Roro Anteng dan dalam teologi hindu dan mitologi hindu khususnya di Tengger berangkat dari dewa Brahma dalam wujud laki-laki dan wisnu dalam wujud perempuan. Dalam lontar puwa bumi kamulan yang ada di Tengger dua manusia ini dikenal dengan Joko (Laki-laki) dan Roro (Perempuan), dengan nama panjang Joko Seger dan Roro Anteng. Kedua manusia ini akhirnya bersatu menjadi suami istri dan menjalani kehidupan bersama di sebuah desa bernama Arga Wulan namun dalam perjalanannya merka tak kunjung dikaruniai anak. Dan akhirnya mereka melakukan pertapaan di goa argowulan Supaya dikaruniai anak.setelah sekian lama melakukan pertapaan mereka dikaruniai 25 anak dengan perjanjian anak bungsu mereka harus dikembalikan kepada penciptanya dewa Brahma sebagai dewa pencipta. Mereka berbahagia bersama 25 anak dan waktu pun terus berjalan dan janji itu harus ditepati. Suatu hari Joko Seger Dan Roro Anteng mendengar suara di mana suara itu mengingatkan mereka akan janjinya dahulu, namun mereka tak rela mengembalikan Raden Kusuma si bungsu kepa sang pencipta. Tetapi janji adalah janji dan harus ditepati akhirnya Raden Kusuma pun menghilang dan Joko seger dan Roro Anteng beserta ke-24 anaknya merasa sedih dan kehilangan. Mereka tak berdiam diri mereka pun mencari Raden Kusuma ke seluruh kawasan Tengger dan tak ada yang menemukan Raden Kusuma, mereka pun putus asa. Dalam keputus asaan dan keharuan itu mereka mendengar suara “ wahai ayah ibu dan saudara-saudaraku biarkanlah aku kembali kepada sang pencita dan kalian tetaplah hidup rukun serta berbakti kepada sang pencipta. “Ayah ibu dan saudara-saudaraku jangan memikirkan aku lagi aku sudah bahagia dan tenang, tetapi aku minta pada kalian setiap malam tanggal 16 bulan Kasada (kalender Tengger) kirimkanlah hasil bumi dan ternak kalian ke kawah Gunung Bromo.” Lalu suara itu pun menghilang dan mereka masih bersedih atas kepergian Raden Kusuma.
Dari suara yang mereka dengar itu setiap tahun pada bulan kasada malam tanggal 16 mereka menyerahkan sebagian hasil bumi dan ternaknya yang di kenal dengan upacara Yajna kasada sampai saat ini.
Setiap tempat di Tengger erat kaitannya dengan legenda Joko Seger Roro Anteng. Desa tempat Joko Seger Roro Anteng bernama desa Arga Wulan yang artinya Gunung Cantik, Penanjakan adalah tempat pemujaan mereka karena Penanjakan tempatnya lebih tinggi dari Arga Wulan yang di anggap sebagai tempat bersetananya para dewa, Kedaluh asal katanya dari bahasa sansekerta yaitu Kada dan Luh, Kada artinya merindukan dan Luh artinya pemberi hujan/ dewa Indra maka Kadaluh artinya merindukan pemberi hujan/ dewa indra, mengharapkan kesuburan untuk wilayah Tengger. Dan di Tengger Kata Kadaluh dikenal dengan nama Kedaluh sampai saat ini. Lemah Pasar nama aslinya adalah Pasar Agung yang merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan upacara misalnya satak. Mungal artinya melihat mengerti (kalau di lihat dari daerah Mungal ini mulai terlihat gunung Bromo). Baru klenteng adalah tempat berstananya dewa Ananta Boga. Semeru adalah tempat pemujaan Siwa mahadewa. Puncak sanga likur atau B-29 adala pucak songolikur atau Pudak Lembu, maksudnya dipuncak inilah orang harus selalu waspada terhadap salah dan benar/mawas diri. Sruni adalah nama lain dari kata bunga dan bunga yang di maksud bunga Edelweis dalam bahasa jawa kuno Tan Hana Layu di tengger dikenal dengan tan layu yang artinya tidak pernah layu yang digunakan untuk upacara entas-entas sebagai wujud orang yang sudah meninggal yaitu disebut dengan sukma sarira di Tengger dikenal dengan nama Petra. Widodaren adalah dari kata bidadari diartikan sebagai betara dan bhatari Gunung Gendera artinya umbul-umbul sebagai simbol kekokohan dan keagungan Poten artinya adalah pusat, pusat yang dimaksud disini adalah orang harus selalu merenungkan hakekat kehidupan dari mana asal mula dan kemana berahirnya. Bajangan artinya tidak jadi bahwa kehidupan manusia belum tentu dapat menyatu denga Tuhan atau rengkarnasi atau punarbawa. Bromo berasal dari kata Brahma yaitu dewa pencipta. Ki Dukun/ Watu Wungkuk adalah tempat untuk meningkatkan eka jati ke dwi jati dan ke tri jati yang mereka mengenal dengan istilah Mulunen dan Pembaron. Watu Balang adalah tempat untuk melabuh sesembahan atau sesaji seperti tradisi Hindu dalam melempar bunga. Gunung Kursi adalah tempat setana linggih abadi. Gunung Lingga artinya gunung perempuan. Puncak sari adalah tempat inti atau pati. Gunung Watangan/ bukit Teletubbies adalah tempat semedi Joko Seger Roro Anteng, Gunung Watangan yang dimaksud disini adalah Lingga Yoni. Gunung lingker adalah tempat penyebrangan yang menakutkan. Gunung Batok dalam bahasa Jawa adalah Batuk dalam bahasa Indonesia artinya jidat, jadi gunung batok adalah tempat bija siro westa dan suda mani dalam artian umumnya mengheningkan cipta.
Tempat stana putra putri Joko Seger dan Roro Anteng
1. Kaki Dukun bersetana di Watu Wungkuk
2. Tumenggung Klinter bersetana di Penanjakan
3. Kaki Sinta Wiji bersetana di gunung Kursi
4. Kaki Rawid bersetana di Banyu Sumanik
5. Kaki Dadung Awuk bersetana di Gunung Pundak Lembu
6. Kaki Teku bersetana di Banyu Tarung Ngguyangan
7. Kaki Pernoto bersetana Poten
8. Tumenggung Kliwung bersetana di Gunung Ringgit
9. Kaki Tunggul Wulung bersetana di Cemara 2
10. Kaki Baru Klinting bersetana di Gunung Baru Klinting
11. Kaki jinting Jinah bersetana di Midangan Bawah Penanjakan
12. Kaki Prabu siwah bersetana di Gunung Lingga
13. Kaki Cokro Pranoto Aminoto bersetana di Gunung Gendera
14. Kaki Jenggot bersetana di Ngrujak Njemplang
15. Kaki Tunggul Ametung bersetana di Tungguan di bawah Ngadas
16. Kaki Demang diningrat bersetana di Gunung Semeru
17. Ki Puspo Gentong Sari bersetana di Patirtan Widodaren
18. Kaki Juru Niti bersetana di Mbajangan
19. Kaki Sindu Joyo bersetana di Wanakara/ Argo Wulan
20. Raden Sapu Jagad bersetana di Banyu Pahit
21. Kaki Dumeling bersetana di Mungal
22. Kaki Bhagus Waris bersetana di Watu Balang
23. Kaki Mesigit bersetana di Gunung Batok
24. Pranten bersetana di Ngadisari
25. Raden Kusuma bersetana di Gunung Bromo
Di dalam kehidupan masyarakat tengger sangat mengagungkan tradisi agamis :
1. Percaya kepada Tuhan yang di sebut Sang hyang maha Agung dan para Dewata yang di sebut duata
2. Percaya pada Atman bahwa di dalam tubuh manusia ada yang menjadikan hidup yang di sebut Atman
3. Percaya adanya Hukum Karma Phala, jangan menyakiti kalau tidak mau di sakiti
4. Percaya adanya Punar Bhawa atau Reinkarnasi, orang Tengger sangat meyakini bahwa hidup tidak hanya sekali, maka upacara kepada leluhur sangat di agungkan
5. Percaya adanya Moksa, Nyawiji marang Gusti Mulih marang asale.
Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Tengger sangat menghargai adanya :
1. Persembahan kepada Tuhan, dalam segala bentuk manifestasinya
2. Persembahan kepada leluhur, orang tengger sangat erat hubunganya dengan cikal bakal dalam komunitas hidup bermasyarakat.
3. Persembahan kepada orang suci, orang Tengger sangat menghormati kepada sesepuh, baik sesepuh desa secara adminstrasi maupun sesepuh adat, baik orang tua sendiri maupun saudara yang dianggap tua.
4. Persembahan kepada sesame manusia, hubungan manusia, hubungan kekluargaan, hubungan kebersamaan selalu mendukung kekompakan dan kegotong royongan serta saling dekat walaupuan tidak bersaudara sedarah.
5. Persembahan kepada alam semesta, orang Tengger sangat dekat dengan alam, bagaimana memperlakukan alam secara skala (nyata, fisik duniawi) dan niskala ( secara spiritual)
Konsep kehidupan Tri Hita Karana sangat dipegang, yaitu hubungan manusia denga Tuhanya, hubungan manusia dengan sesame manusia dan hubungan manusia dengan alam lingkunganya.
Hasil Wawancara dengan PHDI Kab.Pasuruan (Drs. Irawan, M.Pd) dan Romo Dukun Eko warnoto, S.Pd.H
Langgeng basuki
