Jumat, 02 Januari 2015
nilai-nilai upacara adat karo desa wonokitri/ tengger brang kulon
1.
Bentuk keyakinan yang mendasari dilaksanakannya upacara adat
Karo oleh masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Masyarakat
Tengger Desa Wonokitri masih memegang teguh kepercayaan terhadap leluhur di
mana masyarakat masih melaksanakan berbagai rangkaian upacara adat sebagai
wujud penghormatan terhadap leluhur dan untuk memohon keselamatan dalam hidup.
Adapun salah satu upacara adat yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu
upacara adat Karo yang dilaksanakan pada bulan kedua menurut kalender Suku
Tengger yaitu bulan karo maka dari itu disebut upacara adat Karo. Adapun yang
mendasari diksanakannya upacara adat Karo yaitu sebagai bentuk rasa hormat
terhadap leluhur dalam hal ini antara manusia dan leluhur saling menjaga di
mana bila tidak melaksanakan upacara adat Karo ada keyakinan bahwa akan sulit
dalam hidupnya seperti gagal panen atau hasil panen tidak maksimal, adanya
penyakit yang menyerang anggota keluarga dan lain sebagainya. Selain hal
tersebut adapun hal yang mendasari dilaksanakannya upacara adat Karo Suku Tengger
Desa Wonokitri yaitu melaksanakan ajaran agama Hindu yaitu ajaran Pitra Yadnya
(korban suci yang tulus ikhlas kepada leluhur) yang merupakan bagian dari Panca
Yadnya (lima korban suci yang tulus ikhlas). Dan melaksanakan kebiasaan leluhur
yang telah turun temurun dilaksankan.
Dalam upacara adat Karo masyarakat
Tengger Desa Wonokitri tidak mengenal adanya sanksi dari seama manusia ataupun
dari kepala adat tetapi meyakini adanya sanksi yang diyakini dan tertanam dalam
diri masyarakat bahwa kalau tidak melaksankan upacara adat Karo akan ada
malapetaka ataupun wabah penyakit, hasil panen tidak maksimal dan dalam
kehidupan di masyarakat tidak harmonis.
2. Prosesi
Upacara Adat Karo Masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Proses
upacara adat Karo meliputi beberapa tahap yaitu (1) pembukaan upacara adat
Karo, (2) Santi/ Dederek, (3) Kondangan, (4) Nelasih dan (5) penutupan upacara
adat Karo. Rangkaian proses tersebut tidak boleh ada satupun yang dihilangkan
karena setiap rangkaian memiliki maksud dan tujuan masing-masing.
3. Makna
Upacara Adat Karo Bagi Masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Dari
legenda yang berkembang di masyarakat mengenai upacara adat Karo yang tidak
terlepas dari sosok Joko Seger dan Roro Anteng memberikan pemahaman kepada
masyarakat Tengger khususnya masyarakat Desa Wonokitri bahwa di luar kehidupan
manusia ada kehidupan lain yang saling mempengaruhi. Di mana perilaku manusia
dapat mempengaruhi kehidupan di luar dunia manusia begitupun sebaliknya. Maka
dari itu dalam upacara adat Karo bukan hanya sekedar upacara yang dilaksanakan
setiap tahun tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu adanya persembahan
terhadap leluhur yang merupakan wujud bakti masyarakat terhadap leluhur dan
dengan upacara adat Karo masyarakat Tengger khususnya masyarakat Desa Wonokitri
dapat mempererat persaudaraan antar warga dengan melakukan kunjungan ke rumah
sanak saudara untuk meminta maaf dan memohon doa untuk ke depannya. Dalam hal
memohon maaf masyarakat Desa Wonokitri tidak terbiasa memohon maaf dengan
kata-kata tetapi dengan memakan makan yang telah disiapkan, maka dengan memakan
makanan yang telah disiapkan dapat diartikan sudah melupakan semua kesalahan
yang diperbuat sengaja maupun tidak disengaja. sehingga dapat dikatakan bahwa
ada implementasi nilai-nilai moral dalam pelaksanaan upacara adat Karo.
4. Implementasi
Nilai-nilai Moral Dalam Pelaksanaan Upacara Adat Karo
Dalam upacara adat Karo terkandung nilai-nilai yang
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. nilai-nilai
tersebut seperti adanya kunjungan ke rumah sanak saudara untuk meminta maaf dan
memohon doa untuk ke depannya supaya kehidupan bisa lebih baik. Dalam hal
memohon maaf masyarakat Tengger tidak terbiasa dengan memohon maaf dengan
kata-kata, tetapi permohonan maaf tersebut disimbolkan dengan memakan makanan
yang disediakan oleh tuan rumah. Pada hari-hari biasa juga ada kunjungan atau
sekedar bertamu ke rumah sanak saudara tetapi berbeda dengan pada saat upacara
adat Karo, pada hari raya Karo kunjungan ini dikhususkan untuk memohon maaf
tanpa harus membedakan golongan maupun agama sehingga pada kehidupan
selanjutnya terjalin kerukunan dan kehidupan yang harmonis. Kunjungan ke rumah
sanak saudara untuk memohon maaf ini hanya dilakukan pada saat upacara adat
Karo saja. Dan ini memnjadi salah satu ciri upacara adat Karo ysng membedakan
dengan upacara adat lainnya.
5.2
Saran
1.
Bagi Pemerintah
Supaya kebudayaan tradisional Tengger
yang ada di Pasuruan dapat berkembang dan tidak terpengaruh dengan masuknya
budaya asing, sebaiknya ada perhatian, dukungan dan kebijakan mengenai
pelaksanaan upacara adat Karo dari pemerintah. Dengan demikian kebudayaan
daerah yang ada dapat dijadikan aset pemerintah dalam pengembangan kearifan lokal.
2.
Bagi masyarakat Desa Wonokitri
Untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan
daerah khususnya upacara adat Karo, sebaiknya dalam pelaksanaan upacara adat
Karo lebih mengutamakan persembahan untuk leluhur dari pada hidangan atau
makanan untuk tamu yang berkunjung ke
rumah, karena esensi dari upacara adat Karo adalah persembahan terhadap
leluhur.
3. Bagi
Pelaku Upacara
Dalam upaya
menciptakan masyarakat yang peduli terhadap buadaya daerah dan kearifan lokal,
sebaiknya ada pembinaan khusus terhadap generasi selanjutnya untuk ikut serta
dalam melestarikan dan mengembangkan upacara adat Karo tersebut.
upacara adat karo suku tengger desa wonokitri/ tengger brang kulon
Manusia
dan Kebudayaan
2.1.1
Manusia
Menurut kodrat alam, manusia selalu hidup bersama atau
berkelompok. Sekurang-kurangnya kehidupan bersama itu terdiri dari dua orang,
suami istri ataupun Ibu dengan bayinya. Dalam sejarah perkembangan manusia
tidak seorang pun yang hidup menyendiri kecuali dalam keadaan terpaksa dan
itupun hanya sementara waktu.
Aristoteles (388-322 SM), seorang
ahli pikir Yunani kuno menyatakan dalam ajarannya bahwa manusia adalah Zoon politicon yang berarti manusia itu
pada dasarnya selalu ingin bergaul dalam berkumpul dengan sesama manusia
lainnya. Oleh karena sifatnya yang suka bergaul satu sama lain maka disebut
makhluk sosial.
“Manusia sebagai individu (perseorangan)
mempunyai kehidupan jiwa yang menyendiri, namun sebagai makhluk sosial tidak
dapat dipisahkan dari masyarakat. manusia lahir, hidup, dan berkembang dalam
masyarakat. dan sebagai individu manusia tidak dapat mencapai sesuatu dengan
mudah tanpa ada bantuan dari manusia yang lainnya”. (Ambarsari dkk, 2011:23).
Dalam kehidupan bersama dengan
manusia lain itulah menghasilkan apa yang disebut masyarakat. jadi dapa
dikatakan bahwa masyarakat itu terbentuk apabila ada dua orang atau lebih hidup
bersama, sehingga dalam pergaulan hidup timbul berbagai hubungan atau pertalian
yang mengakibatkan seorang dan yang lain saling mengenal dan saling
mempengaruhi.
2.1.2 Kebudayaan
“Budaya
atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan
dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut culture yang berasal dari bahasa Latin colere, yang berarti mengolah,
mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). (Setiadi dkk,
2007:27). Sedangkan menurut Nanang Nazali (2000) dalam Kartika (2007:111)
mejelaskan tentang kebudayaan berkaitan dengan makna, nilai dan simbol.
Pemahaman dinamika kebudayaan pada dasarnyamemahami masalah makna, nilai dan simbol
yang dijadikan acuan oleh sekelompok masyarakat pendukungnya”.
Kemudian pengertian-pengertian tersebut
berkembang dalam arti culture yaitu
segala daya aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam. Berikut ini
pengertian budaya atau kebudayaan dari beberapa ahli :
1.
E.
B. Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan
yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
2.
Koentjaraningrat,
mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri
manusia dengan belajar.
3.
Selo
Soemarjan dan Soelaeman Soemardi mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil
karya, rasa, dan cipta masyarakat
4.
Herkovits,
kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia.
(Setiadi dkk, 2007: 27-28)
Dengan
demikian, kebudayaan atau budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia
baik material maupun non material. Sebagian besar ahli yang mengartikan
kebudayaan seperti ini dipengaruhi oleh pandangan evolusionisme, yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa kebudayaan
itu akan berkembang dari tahapan yang sederhana menuju tahapan yang lebih kompleks.
“Seperti yang
dikatakan oleh Niels Mulder (1984) dalam Kartika (2007:116) bahwa berkaitan
dalam perkembangan dan sistem budaya masyarakat, memberi pernyataan bahwa
kebudayaan berkembang bersifat berkelanjutan dan ajeg (continue) dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah alon-alon waton kelakon (pelan-pelan
asal sampai)”.
2.1.3
Wujud dan Unsur kebudayaan
2.1.3.1
Wujud Kebudayaan
Beberapa ilmuan seperti Talcott
Parson (Sosiolog) dan Al Kroeber (Antropolog) menganjurkan untuk membedakan
wujud kebudayaan secara tajam sebagai suatu sistem, di mana wujud kebudayaan
itu adalah sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola.
Demikian pula J.J Honigmann dalam bukunya The
Word of Man (1959) membagi budaya dalam tiga wujud yaitu ideas, activities, and artifact. (Setiadi
dkk, 2007:28).
Sejalan dengan pikiran
para ahli tersebut, Koentjaraningrat mengemukakan bahwa kebudayaan itu dibagi
atau digolongkan dalam tiga wujud yaitu:
1.
Wujud sebagai suatu kompleks dari
ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan.
Wujud tersebut menunjukan wujud dari ide
dari kebudayaan yang sifatnya abstrak, tak dapat diraba, dipegang, ataupun
difoto, dan tempatnya ada di dalam pikiran masyarakat di mana kebudayaan yang
bersangkutan itu hidup. Kebudayaan ideal ini disebut pula tata kelakuan dan
perbuatan manusia dalam masyarakat sebagai sebagai sopan santun. Kebudayaan
ideal ini dapat juga disebut dengan adat istiadat.
2.
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks
aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
Wujud tersebut dinamakan sistem sosial
karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola manusia itu sendiri. Wujud ini
dapat diobservasi, difoto dan didokumentasikan karena dalam sistem sosial ini
terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi dan berhubungan serta
bergaul satu dengan lainnya dalam masyarakat. lebih jelasnya tampak dalam
bentuk prilaku dan bahasa pada saat mereka berinteraksi dalam pergaulan di
masyarakat. Jadi kesimpulannya, sistem sosial ini merupakan perwujudan
kebudayaan yang bersifat kongret, dalam bentuk prilaku dan bahasa.
3.
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda
hasil karya manusia.
Wujud yang terakhir ini disebut pula
kebudayaan fisik. Di mana wujud budaya ini hampir seluruhnya merupakan hasil
fisik (aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat). sifatnya
yang paling kongret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba,
dilihat dan difoto yang berwujud besar atau pun kecil. Seperti candi Borobudur
(besar), kain batik dan kancing baju (kecil), teknik bangunan misalnya, cara
pembuatan tembok dan fondasi rumah yang berbeda tergantung pada kondisi.
Kesimpulannya, kebudayaan fisik ini merupakan perwujudan kebudayaan yang
bersifat kongret, dalam bentuk materi atau artefak.
2.1.3.2 Unsur Kebudayaan
Menurut
Widyosiswoyo (2006:33-36). Kebudayaan memiliki unsur yang membentuknya. C.
Kluckhohn dalam karyanya universal categories
of culture 1953, ada tujuh unsur kebudayaan pada semua bangsa di dunia
yaitu sebagai berikut:
1.
Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
merupakan karya manusia sebagai homo
faber yang dapat diperoleh berkat kecerdasan, perasaan dan tangan yang
dimilikinya. Adapun wujud peralatan dan perlengkapan yang dimiliki manusia
untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sandang-papan dan untuk kebutuhan
skunder seperti alat produksi atau transportasi.
2.
Mata pencarian hidup dan sistem-sitem
ekonomi
Pencarian hidup dan sistem ekonomi
merupakan karya manusia sebagai homo
ekconomicus seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem
distribusi, sehingga manusia mampu memperoleh kebutuhan hidup yang tuntutannya (challange) semakin tinggi dan diikuti
dengan jawaban (response) yang juga
semakin tinggi.
3.
Sistem kemasyarakatan
Sistem kemasyarakatan merupakan produk dari
manusia sebagai homo socius. Yang
berkembang dari desa, daerah, nasional dan internasional sekarang.
4.
Bahasa
Bahasa merupakan karya manusia sebagai homo longuens, manusia yang berbahasa. Dalam
tahap sederhana dikenal adanya bahasa lisan yang umumnya dipahami oleh orang
lain dalam lingkungan atau masyarakat sendiri. Karena bahasa suatu masyarakat
berbeda dengan masyarakat lain, maka dipergunakan bahasa insarat untuk sarana
komunikasi. Tahap yang lebih tinggi dalam budaya adalah kalau mereka sudah
dapat membuat dan mengerti bahasa lisan, karena komunikasinya bukan hanya
tingkat horizontal (dengan manusia sezaman), melainkan sampai tigkat vertikal
(dengan manusia generasi lain). Mereka yang sudah mengenal tulisan dimasukan
dalam zaman sejarah.
5.
Kesenian
Kesenian merupakan karya manusia sebagai
homo esteticus, manusia yang tahu
keindahan. Kesenian pada umumnya muncul setelah kebutuhan fisik manusia
terpenuhi melalui budaya, barulah manusia butuh akan keindahan yang dapat
dinikmati sebagai kebutuhan psikis. Misalnya yang berkaitan dengan rumah
sebagai tempat tinggal. pada mulanya manusia perlu tempat tinggal guna
memperoleh keamanan, kemudian dirasakan bahwa rumah juga perlu memberi
kenyamanan, seperti paralatan rumah tangga yang menyenangkan, lukisan yang idah
menghias dinding dan sebagainya.
6.
Sitem pengetahuan
Sistem pengetahuan hasil pemikiran
manusia sebagai homo sapiens, manusia
cerdas yang sekarang diperlunak menjadi manusia bijaksana. Selain sebagai hasil
dari kecerdasan manusia (rasional inteletual), juga diperoleh melalui
pengalaman orang lain (experience).
Bagi manusia pengetahuan yang diperlukan adalah yang berguna bagi kehidupannya
(ontologis).
7.
Religi
Religi yang merupakan tata cara
kepercayaan atau agama merupakan hasil manusia
sebagai homo religious (manusia
religi). Hanya manusia saja sebagai makhluk Tuhan yang tahu dan mau melakukan
segala kegiatan yang bersifat religi. Sebab manusia sadar bahwa di atas dirinya
terdapat kekuatan kekuatan yang lebih hebat (supernatural) yang dapat menghitam-putihkan
sebagai kegiatan macro cosmos. Untuk
menghindari bencana yang ditimbulkan oleh kekuatan supernatural demikian
manusia “membujuknya” melalui tata cara religi. Agama yang dianut manusia tetap
dalam pandangan yang demikian, walaupun cara-caranya berbeda. Misalnya tidak
lagi diperlukan upacara korban untuk Tuhan, melainkan melakukan yang
diperintahkan dan menjauhi laranganNya.
2.1.4 Sifat dan Sistem Budaya
2.1.4.1 Sifat-sifat budaya
Kendati
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu tidak sama, seperti di Indonesia
yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang berbeda, tetapi setiap
kebudayaan mempunyai ciri atau sifat yang sama. Sifat tersebut bukan diartikan
secara spesifik, melainkan bersifat universal. Di mana sifat-sifat budaya itu
akan memiliki ciri-ciri yang sama bagi semua kebudayaan manusia tanpa
membedakan faktor ras, lingkungan alam atau pendidikan, yaitu sifat hakiki yang
berlaku umum bagi semua budaya di mana pun. Sifat hakiki dari kebudayaan
tersebut antara lain:
1.
Budaya terwujud dan tersalurkan dari
perilaku manusia.
2.
Budaya ada terlebih dahulu dari pada
lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia
generasi yang bersangkutan.
3.
Budaya diperlukan oleh manusia dan
diwujudkan dalam bentuk tingkah lakunya.
4.
Budaya mencakup aturan-aturan yang
berisikan kewajiban-kewajiban, tidakan-tindakan yang diterima dan ditolak,
tidakan-tindakan yang dilarang dan tindakan yang diizinkan.
2.1.4.2 Sistem budaya
Sistem
budaya merupakan komponen dari kebudayaan yang bersifat abstrak dan terdiri
dari pikiran-pikiran, gagasan, konsep serta keyakinan dengan demikian sistem
kebudayaan merupakan bagian dari kebudayaan yang dalam bahasa Indonesia lebih
lazim disebut sebagai adat istiadat. Dalam adat istiadat terdapat juga sistem
norma dan disitulah salah satu fungsi sistem budaya yaitu untuk menata serta
menetapkan tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia.
Dalam
sistem budaya ini terbentuk unsur-unsur yang paling berkaitan satu dengan
lainnya sehingga tercipta tata kelakuan manusia yang berwujud dalam unsur
kebudayaan sebagai satu kesatuan. Unsur pokok kebudayaan menurut Bronislaw
Malinowski antara lain:
1. Sistem norma yang memungkinkan kerja sama
antara para anggota masyarakat sekelilingnya.
2. Organisasi ekonomi.
3. Alat-alat dan lembaga pendidikan.
4. Organisasi kekuatan.
5. Sistem ekonomi.
6. Keluarga.
7. Kekuasaan politik.
Sistem
kebudayaan suatu daerah akan menghasilkan jenis-jenis kebudayaan yang berbeda.
Jenis kebudayaan ini dapat digolongkan menjadi:
1. Kebudayaan material
Kebudayaan
material antara lain hasil cipta, karsa yang berwujud benda, alat pengolahan
alam, seperti gedung, pabrik, jalan, rumah dan sebagainya.
2. Kebudayaan
non material
Kebudayaan
non material merupakan hasil cipta karsa yang berwujud kebiasaan, adat
istiadat, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Kebudayaan non material antara lain:
1.
Volkways (norma kebiasaan)
2.
Mores (norma kesusilaan)
3.
Norma hukum
4.
fashion (Mode)
2.2 Devinisi Nilai
Moral
Nilai adalah
sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan dan dianggap penting
oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat. karena itu, sesuatu dikatakan
memiliki nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran), indah (nilai
estetika), baik (nilai moral atau etis), religious (nilai agama) dll. (Setiadi
dkk, 2007:27)
Jika kepercayaan
menjelaskan tentang itu sesuatu, maka nilai akan menjelaskan bagaimana
seharusnya sesuatu itu terjadi. Nilai itu sangat luas dan abstrak dan nilai itu
mengacu pada apa atau sesuatu yang oleh manusia dianggap paling berharga.
Timbulnya nilai berasal dari pandangan hidup suatu masyarakat atau muncul dari sikap
manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, terhadap alam dan terhadap sesamanya. Adapun
sifat-sifat nilai diantaranya:
1.
Nilai adalah
suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan manusia. Nilai yang bersifat
abstrak tidak dapat diindrai. Hal yang dapat diamati hanyalah objek yang
bernilai. Misalnya, orang yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai tetapi
kita tidak bisa mengindrai kejujuran itu, yang dapat kita indrai adalah
kejujuran itu.
2.
Nilai
memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung harapan, cita-cita, dan suatu
keharusan sehingga nilai memiliki sifat ideal (das sollen). Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai landasan
manusia dalam bertindak. Misalnya nilai keadilan. Semua orang berharap dan
mendapatkan serta berperilaku yang mencerminkan nilai keadilan.
3.
Nilai
berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia adalah pendukung nilai.
Manusia bertindak berdasar dan didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya
nilai ketakwaan, adanya nilai ini menjadikan semua orang terdorong untuk bisa
mencapai derajat ketakwaan.
Kata Moral berasal dari kata
latin mos yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu Moralitas yang
merupakan istilah manusia dalam menyebut manusia atau orang lainnya dalam
tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral
disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di
mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. (http://karyatulis.artikel2.com/pengertian-moral.htm).
Menurut Abudin Nata dalam Haq
(2011:21) moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap
aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Sedangkan menurut (Djahiri 2006:6) Moral/moralitas adalah tuntutan sikap,
perilaku yang diminta oleh norma dan nilai. Moral
juga merupakan produk dari budaya dan agama. Moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan,
kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu
berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat dll.
Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah hal kenyakinan dan sikap
batin dan bukan hal sekedar penyesuaian dengan aturan dari luar, entah itu
aturan hukum negara, agama atau adat-istiadat. Selanjutnya dikatakan bahwa,
kriteria mutu moral seseorang adalah hal kesetiaannya pada hatinya sendiri.
Moralitas adalah pelaksanaan kewajiban karena hormat terhadap hukum, sedangkan
hukum itu sendiri tertulis dalam hati manusia. Dengan kata lain, moralitas
adalah tekad untuk mengikuti apa yang dalam hati disadari sebagai kewajiban
mutlak. (http://karyatulis.artikel2.com/pengertian-moral.htm).
Ajaran moral memuat
pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok
manusia. Adapun nilai moral adalah tentang manusia bagaimana manusia harus
hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral
dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai smanusia
sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu
segi saja, misalnya sebagi suami atau istri.
“Sejalan dengan
hal di atas Widagdho dkk (2012:32) mengatakan sebagai pengemban nilai-nilai
moral, setiap orang harus merasa terpanggil untuk mengadakan reaksi, kapan dan
di mana saja melihat perbuatan yang menginjak-injak nilai-nilai moral tersebut.
Hanya apabila semua orang sudah menyadari akan tugas dan kewajibannya seperti
itu, suasana kehidupan yang aman, tertib, adail dan damai dapat diciptakan.
Sebaliknya selama masih ada di antara orang yang berbuat sesuatu hanya ingat
akan kepentingan dirinya tanpa memperhitungkan orang lain, maka selama itu pula
perdamaian dan keadilan hanya akan merupakan impian belaka”.
2.3 Gambaran Tentang Suku Tengger
Suku tengger adalah warga asli yang
mendiami kawasan Taman
Nasional Bromo Tengger Semeru, di Jawa Timur. Masyarakat suku Tengger sejak awal merupakan
penganut Hindu yang taat dan sedikit berbeda dengan yang ada di Bali. Hingga kini mereka meyakini
sebagai keturunan langsung dari pengikut Kerajaan Majapahit.
Sebelum nama Tengger daerah tersebut
bernama Raga Wulan yang merupakan hutan belantara sedangkan nama Tengger
sendiri berawal dari legenda sepasang suami istri
yang bernama Joko
Seger dan Roro Anteng. Joko Seger adalah
putra seorang pandita yaitu Prabu Anom, Joko Seger berwajah tampan bertubuh
gagah dan berjiwa satria sedangkan Roro Anteng adalah titisan Dewi
parasnya cantik dan budinya luhur yang merupakan anak dari Glinding Wesi. Nama
Roro Anteng sendiri sebenarnya adalah Sinaliran dan karena dia sakit diberilah
obat oleh Ki Dada Putih bersama Joko Seger setelah itu Ki Dada Putih bersabda
sembuhlah kamu dan namamu menjadi Roro Anteng, Anteng sendiri artinya tenang. Dari pertemuan itu akhirnya Joko
Seger dan Roro Anteng bersatu. Setiap hari mereka bekerja sebagai petani karena
kawasan tersebut merupakan kawasan yang subur.
Meskipun perkawinan Joko Seger dan Roro
Anteng sudah lama tetapi mereka belum di karuniai anak satu pun. Melihat
keadaan ini mereka tidak putus asa, mereka selalu memohon kepada Shang Hyang Widhi agar di karuniai
anak. Pada siang hari waktu mereka digunakan untuk berkerja dan pada malam hari
digunakan untuk bersemedi untuk memohon pada Shang Hyang Widhi supaya dikaruniai
anak. Begitu malam tiba mereka melakukan semedi tetapi keberuntungan belum
berpihak pada mereka. Karena manusia hanya dapat berusaha tidak mampu
memastikanya semua itu adalah kuasa Tuhan yang Maha Esa bila si Mpunya
jagad raya dan segala sesuatu yang tidak nampak oleh manusia termasuk nasib,
jodoh, ajal dan rejeki.
Melihat kenyataan yang
demikian Joko Seger dan Roro Anteng tidak patah semangat untuk berusaha.
Dan semedinya semakin giat dilakukan.
Hari-hari yang biasanya digunakan untuk berkerja mereka gunakan untuk
bersemedi, semedi dan semedi. Pada suatu hari terlintas di hati mereka untuk
bersemedi di Watu Kutha dengan pertimbangan kalau bersemedi di Watu Kutha lebih
hening dibandingkan dengan tempat-tempat yang lain. Sebelum bersemedi mereka mensucikan
diri serta mempersiapkan sarana untuk bersemedi di Watu khuta yang berada di
tengah lautan pasir. Dan berangkatlah mereka ke Watu Khuta untuk melakukan
persemedian. Sesampai di Watu Khuta,
mereka mulai melakukan semedi dengan bersimpuh dan memusatkan pikiran mereka di
puncak keheningan. Mereka menghadap ke timur dan bersemedi selama satu tahun.
Tapi mereka belum mendapatkan petunjuk dari sang pencipta. Lalu mereka mengubah
arah semedinya keselatan barang kali dengan mengubah arah semedinya petunjuk
akan segera di dapatkan. Joko seger dan Roro anteng bersemedi ke arah selatan selama satu tahun juga. Tetapi
petunjuk dari sang pencipta belum juga mereka dapatkan. Kemudian mereka
mengubah arah semedinya lagi yaitu ke arah barat. Mereka berangapan dengan
mengubah arah semedinya petunjuk akan segera didapat mereka bersemedi selama
satu tahun juga tetapi hasil belum juga didapat. Akhirnya mereka mengubah arah
semedinya lagi ke arah utara. Mereka bersemedi selama satu tahun juga. Tetapi
hasilnya sama petunjuk belum juga mereka dapatkan.
Akhirnya Joko Seger dan
Roro Anteng menengadah ke atas selama satu tahun sampailah mereka berada di
puncak keheningan yang paling tinggi. Maka antara sadar dan tidur terdengar
suara yang memecah keheningan malam yang samar-samar terdengar suara dari udara
dan suara tersebut memerintahkan Joko Seger dan Roro Anteng untuk menghentikan
semedinya. Saat itu juga mereka berjanji bahwa jika di karuniai 25 anak yang
bungsu akan di korbankan ke kawah gunung Bromo. Asalkan ke-25 anaknya hidup
semua perkataan Roro anteng tersebut di dengar oleh Shang Hyang Widhi. Akhirnya
semedi mereka pun berakhir. Mereka telah bersemedi selama 5 tahun dan pada akhirnya
mereka kembali ke puncak Penanjakan yaitu kembali ke rumah yang selama ini
mereka tinggalkan tetapi rumah yang lama tidak dihuni itu tidak dirawat sudah
tumbuh subur lumut dan rumput liar begitu pun ladang yang semula tertata
rapi menjadi semak belukar tak beraturan. Joko seger dan Roro anteng
seolah-olah memulai lagi kehidupannya yang baru. Hari demi hari mereka lalui
dengan tabah sambil menata kembali kehidupan mereka dan lambat laun ladang yang
dulunya penuh semak belukar ditebang dan berubah kembali menjadi ladang
pertanian yang tertata rapi. Sayuran menghijau menjanjikan harapan bagi
kehidupan hari esok dan sejuknya udara pegunungan menambah tentramnya hati
mereka berdua. Mereka pun bertambah yakin bahwa cita-citanya untuk memiliki
anak akan terkabul. Satu tahun sudah mereka
menata kembali kehidupan mereka dengan hati yang tabah. Akhirnya Roro anteng
mengandung putranya yang pertama betapa senang dan harunya mereka setelah putra
pertamanya lahir. Segala daya dan upaya mereka kerahkan untuk menyambut putra
pertamanya, bayi itu telah mewujudkan harapan mereka sebagai rasa syukur mereka
memberi nama putranya dengan nama Tumenggung Keliwung. Dialah putra pertama Joko Seger dan
Roro Anteng. Hari demi hari terasa cepat, hari berganti minggu, minggu berganti
bulan, bulan berganti tahun begitu seterusnya hinga tidak terasa Roro Anteng
sudah berhasil mewujudkan harapannya dan melahirkan anaknya yang ke 25.
Perasaan bahagia yang tiada tara betul-betul dirasakan keluarga Joko seger dan
Roro anteng. Seakan dunia ini milik mereka berdua betapa tidak harapan yang
sudah lama mereka impikan sekarang terwujud untuk memiliki keturunan.
Rata-rata anak mereka
berwajah rupawan dan berbudi luhur. Meskipun meraka mempunyai banyak saudara
tapi mereka tidak pernah berselisih, apa pun yang diperintahkan oleh kedua
orang tuanya mereka jalani dengan tulus. Setiap hari anak-anaknya membantu
berkerja di ladang, sehingga suasana yang rukun dan harmonis selalu mereka
rasakan. Karena waktu yang sudah berangsur-angsur lama Joko Seger
dan Roro Anteng lupa bahwa mereka pernah mempunyai janji. Janji tersebut
menyangkut keselamatan anak bungsunya dan walaupun mereka ingat tidak akan
segera dilaksanakan karena tidak seorang pun yang rela mengorbankan darah
dagingnya sendiri. Jelas janji itu tidak mereka lakukan dan karena mereka
ingkar terhadap janjinya maka tiba-tiba kawah gunung bromo mengeluarkan api,
api tersebut menyambar kesana kemari seolah-olah bernyawa dan mencari raden Kusuma (si bungsu) sambaran api
tersebut bagaikan petir dan dalam sekejap raden Kusuma tersambar api tersebut
dan masuk ke kawah gunung Bromo. Setelah raden Kusuma masuk ke kawah Gunung Bromo api tersebut langsung mereda
dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lalu Joko Seger dan Roro Anteng beserta
anak-anaknya merasakan kesedian yang mendalam sebab putra bungsunya telah tiada.
Tiba-tiba di tengah
keharuan itu terdengarlah suara melengking dari kawah gunung Bromo “wahai ayah
ibu beserta saudara-saudaraku aku berkorban demi kalian semua oleh karena itu
hiduplah dengan rukun dan tetap berbaktilah pada kepada sang pencipta. Ayah,
ibu, dan saudara-saudaraku jangan memikirkan aku karena hidupku sekarang sudah
tenang, tetapi aku minta kirimlah ke kawah ini sebagian hasil bumi dan ternakmu
saat malam purnama di bulan Kasada”. Demikianlah suara ghaib dari Raden Kusuma yang memberi pesan kepada ayah ibu dan
saudara-saudaranya. Setelah suara itu menghilang semua yang ditingalkan oleh
raden Kusuma sangat sedih semua. Derai air mata tak terbendung lagi sepeningal
Raden Kusuma Joko Seger dan Roro Anteng baru sadar kekhilafannya bahwa mereka
telah berjanji, jika dikaruniai 25 anak dan ke-25 anaknya hidup semua, maka
anak yang terakhir akan dikorbankan ke kawah Gunung Bromo. Hari demi hari
mereka lalui, dan kesedian mereka pun berkurang dan yang terpenting adalah melaksanakan
perintah raden Kusuma untuk tetap hidup rukun dan mengorbankan hasil bumi serta
ternak pada malam purnama bulan Kasada (kalender suku tengger). Itulah yang
menjadi patokan yadnya Kasada yang sampai sekarang masih di laksanakan
oleh suku Tengger.
Suku Tengger mengangap
bahwa orang yang pertama kali menghuni dan meletakan sejarah itu ialah pasangan
suami istri Joko Seger dan Roro Anteng maka mereka diakui sebagai peletak
landasan tradisi suku Tengger dan mereka di anggap sebagai cikal bakal
sesepuh di kawasan Tengger. Untuk mengabadikan nama leluhurnya suku Tengger menjadikan nama pasangan suami istri
tersebut sebagai nama suku mereka yaitu Tengger yang merupakan perpaduan dari
dua kata yaitu Teng berasal dari
nama Roro Anteng Ger berasal dari
nama Joko Seger. Gabungan nama tersebut menjadi nama Tengger sehingga sampai
sekarang menjadi nama suku yang mendiami kawasan Bromo Tengger Semeru.
(Berdasarkan wawancara dengan Bapak Kasimen 26 Desember 2013 )
Ada pun nama-nama dan tempat kediaman anak-anak
Joko Seger dan Roro Anteng secara berurutan adalah sebagai berikut:
Table
2.1 nama dan tempat kediaman anak-anak Joko Seger dan Roro Anteng
|
No
|
Nama
|
Kediaman
|
|
1
|
Tumenggung Kliwung
|
Sanggar Poten
|
|
2
|
Dumeling
|
Plewangan Mungal
|
|
3
|
Endanglu
|
Desa Wanakitri
|
|
4
|
Alang-alang Wulung
|
Desa Wanakitri
|
|
5
|
Adi Sari
|
Desa Ngadisari
|
|
6
|
Tunggul Sari
|
Wanajati Desa
Ngadiwana
|
|
7
|
Lawang Merak
|
Plewangan Mungal
|
|
8
|
Ki Pandan
|
Desa Panca Kusuma
|
|
9
|
Ki Pekik
|
Cemara Pukul
|
|
10
|
Perniti
|
Mbajangan
|
|
11
|
Ki Banjar
|
Desa Sari Warni
|
|
12
|
Sejati
|
Desa Tosari
|
|
13
|
Jati Rupo
|
Desa Ledok Pring
|
|
14
|
Ki Pangasari
|
Desa Mbesari
|
|
15
|
Ati Lengis
|
Desa Ngadiwana
|
|
16
|
Wiryo Sari
|
Desa Tosari
|
|
17
|
Tunggul Wulung
|
Desa Ngadiwana
|
|
18
|
Pernoto
|
Sanggar Poten
|
|
19
|
Dung Sari
|
Pelewangan Jemplang
|
|
20
|
Rengi
|
Gubuk Klakah Desa
Kunci
|
|
21
|
Pawitro Sari
|
Sapih
|
|
22
|
Purwo Jati
|
Ponco Kusuma
|
|
23
|
Ending Sari
|
Hutan Ciri
|
|
24
|
Glagah Tenggoro
|
Jemplang
|
|
25
|
Kusuma
|
Kawah Gunung Bromo
|
(Sumber
Dokumen pak kasimen 2010)
2.4
Tinjauan
Upacara Adat dan Upacara Adat Karo
2.4.1 Upacara Adat
secara etimologi
kata adat berasal dari bahasa Arab “Adah” yang berarti kebiasaan atau sesuatu
perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang lalu menjadi kebiasaan yang
tetap dan dihormati orang,maka kebiasaan itu menjadi adat. Sedangkan menurut
Mustapa (1996:1) adat merupakan segala hal yang senantiasa tetap atau sering diterapkan
kepada manusia.
“Menurut
Purwadi (2005) upacara tradisional adat Jawa dilakukan demi mencapai
kententraman hidup lahir batin. Dengan mengadakan upacara tradisional itu,
orang Jawa memenuhi kebutuhan spiritualnya selain itu upacara tradisional yang
dilakukan oleh orang Jawa bertujuan memperoleh solidaritas sosial, dan
menumbuhkan etos kerja kolektif yang tercermin dalam ungkapan gotong royong nyambut gawe (gotong royong
dalam bekerja). Dalam berbagai kesempatan, upacara tradisional Jawa memang
melibatkan banyak orang. Mereka melakukan ritual dengan dipimpin oleh sesepuh
masyarakat. upacara taradisional juga berkaitang dengan lingkungan hidup.
Masyarakat Jawa mempercayai bahwa lingkungan hidup itu perlu dilestarikan
dengan cara ritual-ritual keagamaan yang mengandung nilai kearifan lokal”.
Seperti
upacara tradisional upacara adat juga merupakan tingkah laku yang dilakukan
untuk peristiwa-peristiwa yang tidak ditujukan pada kegiatan teknis
sehari-hari, akan tetapi mempunyai kaitan dengan kepercayaan atau keyakinan.
Menurut Koentjaranigrat (Sahnur Dian,
2010:16) upacara adat timbul karena adanya dorongan perasaan manusia untuk
melakukan berbagai perbuatan yang bertujuan untuk mencari hubungan dengan dunia
gaib. Selain masih ada kekuatan yang lebih besar dalam dirinya, manusia
merasakan adanya kegunaan adanya gejala-gejala atau kejadian yang luar biasa
dalam kehidupan. Maka dari itu hubungan dengan kekuatan tadi manusia melakukan
sesuatu agar hubungan antara manusia dengan dunia gaib dapat terjaga dengan
baik. Dunia gaib itu dapat dihadapi oleh manusia dengan perasaan cinta, hormat,
bakti dll. Perasaan tersebut diwujudkan manusia sehingga menghasilkan kelakuan
religi tau religius behavior yang
diwujudkan dalam upacara adat.
“Lebih
lanjut Koentjaraningrat (Sahnur Dian, 2010:17) memaparkan bahwa upacara yang
dianggap keramat itu memiliki empat bentuk, wujud pertama adalah wujud fisik yang tampak dengan adanya unsur sesaji,
hiburan yang ditampilakan, pakaian yang digunakan pelaku, serta perlengkapan
lain. Wujud kedua adalah perilaku
orang yang terlibat dalam upacara. Wujud ketiga
adalah wujud kongret, artinya dalam upacara tradisional perilaku benda atau
materi yang mengandung harapan, ide, pikiran, atau pesan yang disampaikan pada
masyarakat. Sedangkan wujud yang keempat adalah
nilai-nilai budaya yang keramat yakni gagasan-gagasan yang ditanamkan pada jiwa
manusia sejak usia dini dalam proses sosialisasinya dan menjadi landasan hidup
yang sulit diubah”.
“Sejalan dengan
yang dikatakan Koentjaraningrat menurut Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur
(2000) mengatakan upacara adat merupakan media untuk menanamkan nilai-nilai
moral. Jadi upacara adat maupun upacara tradisional ini tidak terlepas dari
kebiasaan manusia yang telah dilaksanakan secara turun temurun yang pada
hakekatnya adalah memberikan pelajaran kepada manusia yang melaksanakan untuk
menjaga keseimbangan dalam hidup”.
2.4.2 Upacara Adat Karo
Upacara adat Karo tidak
terlepas dari legenda sepasang suami istri yaitu Joko Seger dan Roro Anteng.
Semua berawal ketika Joko Seger dengan Roro Anteng menasehati anak-anaknya,
“anak-anakku semuanya yang ada di Brang
Wetan (sebelah Timur) dan ada di Brang
Kulon (sebelah Barat) yang sabar, yang sudah punya tempat dan sudah
dijadikan Desa atau Kampung. Dulu saya berjanji, ketika hutan ini sudah dapat
ditempati dan sudah menjadi Desa atau Kampung akan saya beriakan ganti pada
waktunya serta dengan tanda yang yang akan saya beritahukan. Tandanya untuk
sebelah barat berupa lusungane Wong/
Klontongan wong (tempatnya orang) yang jadi leluhurnya anak cucu nanti,
untuk Tengger sebelah Timur leluhurnya adalah Ratu yang namanya Ki Dada Putih
dan Sapu Regol yang membuat hutan ini menjadi Desa/ Kampung. Sebelah Barat
menjadi asal Klontongan yang akan
digunakan sebagai jimat turun temurun yang dulunya dikatakan tempatnya Ratu
asalkan hutan sudah menjadi Desa/ Kampung, sudah bisa ditempati hidup,
digunakan mencari sandang pangan, dan sudah kelihatan menjadi daerah yang bisa
ditempati.”
Tempat
yang tadinya hutan ini menjadi tempat bersatunya keturunan dari dua tempat
yaitu Brang wetan (sebelah timur) dan
Brang Kulon (sebelah Barat) asal putra
dan putri yaitu Joko Seger dan Roro Anteng yang namanya dijadikan satu Teng dan Ger menjadi Tengger daerah
Barat dan Timur. Dari bersatunya dua anak manusia tersebut diwujudkan dengan
tarian laki-laki dan perempuan yang dinamakan manten laki perempuan dan
berjumlah rolas (dua belas) yang artinya
asal dari dua orang yang duwujudkan manten Sodor
waktu menepati janji daerah Tengger yaitu bulan karo (dua) menurut kalender Suku Tengger tanggal 17. Tempat
ritualnya menjadi satu untuk daerah Brang
Kulon (sebelah Barat) di Desa Tosari. Setiap rumah harus santi dederek yang merupakan bagian dari
upacara adat Karo, santi artinya
bahagia/ damai turun temurun sedangkan dederek
artinya sanak saudara rukun dan berkumpul selamanya. Jadi upacara adat karo
ini meliputi beberapa rangkaian yaitu dibukanya upacara adat ini dengan tarian
yang disakralkan yaitu tari sodor, setelah pembukaan dilanjutkan dengan santi/dederek di setiap rumah warga yang
dilanjutkan dengan kunjungan ke rumah sanak saudara. Setelah acara tersebut
acara yang berikutnya adalah nelasih
yaitu ziarah ke makam leluhur. Dan acara yang berikutnya adalah upacara
penutup, dengan adanya tari ujung yang melambangkan kekuatan laki-laki.
Adapun perhitungan kalender Tengger di mana Suku Tengger
sudah mengenal dan mempunyai sistem kalender sendiri yang mereka namakan Tahun
Saka atau Saka Warsa, jumlah usia kalender suku tengger berjumlah 30 hari
(masing-masing bulan dibulatkan), tetapi ada perbedaan penyebutan usia hari
yaitu antara tanggal 1 sampai dengan 15 disebut tanggal hari, dan 15 sampai 30
disebut Panglong Hari (penyebutannya adalah Panglong siji (satu), panglong loro
(dua) dan seterusnya). Pada tanggal dan bulan tertentu terdapat tanggal yang
digabungkan yaitu tumbuknya dua tanggal. Pada tanggal Perhitungan Tahun Saka di
Indonesia jatuh pada tanggal 1 (sepisan) sasih kedhasa (bulan ke sepuluh),
yaitu sehari setelah bulan tilem (bulan mati). Cara menghitungnya dengan rumus:
tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan
untuk wuku dan hari pasaran tertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk,
sehingga ada dua tanggal yang harus disatukan dan akan terjadi pengurangan
jumlah hari pada tiap tahunnya. Untuk melengkapi atau menyempurnakannya
diadakan perhitungan kembali setiap lima tahun, atau satu windu tahun wuku.
Pada waktu itu ada bulan yang ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan
Unan-unan, yang kemudian tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai
bulan berikutnya, yaitu bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas. Mecak (Perhitungan
kalender Tengger), istilah mecak biasanya digunakan untuk menghitung atau
mencari tanggal yang tepat untuk melaksankan Upacara-upacara besar seperti
Karo, Kasada maupun Upacara Unan-unan. Setiap Dukun Sepuh telah mempunyai
persiapan atau catatan tanggal hasil Mecak untuk tiap-tiap upacara yang akan
dilaksanakan sampai lima tahun ke depan.
Langganan:
Komentar (Atom)



