1.
Bentuk keyakinan yang mendasari dilaksanakannya upacara adat
Karo oleh masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Masyarakat
Tengger Desa Wonokitri masih memegang teguh kepercayaan terhadap leluhur di
mana masyarakat masih melaksanakan berbagai rangkaian upacara adat sebagai
wujud penghormatan terhadap leluhur dan untuk memohon keselamatan dalam hidup.
Adapun salah satu upacara adat yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu
upacara adat Karo yang dilaksanakan pada bulan kedua menurut kalender Suku
Tengger yaitu bulan karo maka dari itu disebut upacara adat Karo. Adapun yang
mendasari diksanakannya upacara adat Karo yaitu sebagai bentuk rasa hormat
terhadap leluhur dalam hal ini antara manusia dan leluhur saling menjaga di
mana bila tidak melaksanakan upacara adat Karo ada keyakinan bahwa akan sulit
dalam hidupnya seperti gagal panen atau hasil panen tidak maksimal, adanya
penyakit yang menyerang anggota keluarga dan lain sebagainya. Selain hal
tersebut adapun hal yang mendasari dilaksanakannya upacara adat Karo Suku Tengger
Desa Wonokitri yaitu melaksanakan ajaran agama Hindu yaitu ajaran Pitra Yadnya
(korban suci yang tulus ikhlas kepada leluhur) yang merupakan bagian dari Panca
Yadnya (lima korban suci yang tulus ikhlas). Dan melaksanakan kebiasaan leluhur
yang telah turun temurun dilaksankan.
Dalam upacara adat Karo masyarakat
Tengger Desa Wonokitri tidak mengenal adanya sanksi dari seama manusia ataupun
dari kepala adat tetapi meyakini adanya sanksi yang diyakini dan tertanam dalam
diri masyarakat bahwa kalau tidak melaksankan upacara adat Karo akan ada
malapetaka ataupun wabah penyakit, hasil panen tidak maksimal dan dalam
kehidupan di masyarakat tidak harmonis.
2. Prosesi
Upacara Adat Karo Masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Proses
upacara adat Karo meliputi beberapa tahap yaitu (1) pembukaan upacara adat
Karo, (2) Santi/ Dederek, (3) Kondangan, (4) Nelasih dan (5) penutupan upacara
adat Karo. Rangkaian proses tersebut tidak boleh ada satupun yang dihilangkan
karena setiap rangkaian memiliki maksud dan tujuan masing-masing.
3. Makna
Upacara Adat Karo Bagi Masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Dari
legenda yang berkembang di masyarakat mengenai upacara adat Karo yang tidak
terlepas dari sosok Joko Seger dan Roro Anteng memberikan pemahaman kepada
masyarakat Tengger khususnya masyarakat Desa Wonokitri bahwa di luar kehidupan
manusia ada kehidupan lain yang saling mempengaruhi. Di mana perilaku manusia
dapat mempengaruhi kehidupan di luar dunia manusia begitupun sebaliknya. Maka
dari itu dalam upacara adat Karo bukan hanya sekedar upacara yang dilaksanakan
setiap tahun tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu adanya persembahan
terhadap leluhur yang merupakan wujud bakti masyarakat terhadap leluhur dan
dengan upacara adat Karo masyarakat Tengger khususnya masyarakat Desa Wonokitri
dapat mempererat persaudaraan antar warga dengan melakukan kunjungan ke rumah
sanak saudara untuk meminta maaf dan memohon doa untuk ke depannya. Dalam hal
memohon maaf masyarakat Desa Wonokitri tidak terbiasa memohon maaf dengan
kata-kata tetapi dengan memakan makan yang telah disiapkan, maka dengan memakan
makanan yang telah disiapkan dapat diartikan sudah melupakan semua kesalahan
yang diperbuat sengaja maupun tidak disengaja. sehingga dapat dikatakan bahwa
ada implementasi nilai-nilai moral dalam pelaksanaan upacara adat Karo.
4. Implementasi
Nilai-nilai Moral Dalam Pelaksanaan Upacara Adat Karo
Dalam upacara adat Karo terkandung nilai-nilai yang
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. nilai-nilai
tersebut seperti adanya kunjungan ke rumah sanak saudara untuk meminta maaf dan
memohon doa untuk ke depannya supaya kehidupan bisa lebih baik. Dalam hal
memohon maaf masyarakat Tengger tidak terbiasa dengan memohon maaf dengan
kata-kata, tetapi permohonan maaf tersebut disimbolkan dengan memakan makanan
yang disediakan oleh tuan rumah. Pada hari-hari biasa juga ada kunjungan atau
sekedar bertamu ke rumah sanak saudara tetapi berbeda dengan pada saat upacara
adat Karo, pada hari raya Karo kunjungan ini dikhususkan untuk memohon maaf
tanpa harus membedakan golongan maupun agama sehingga pada kehidupan
selanjutnya terjalin kerukunan dan kehidupan yang harmonis. Kunjungan ke rumah
sanak saudara untuk memohon maaf ini hanya dilakukan pada saat upacara adat
Karo saja. Dan ini memnjadi salah satu ciri upacara adat Karo ysng membedakan
dengan upacara adat lainnya.
5.2
Saran
1.
Bagi Pemerintah
Supaya kebudayaan tradisional Tengger
yang ada di Pasuruan dapat berkembang dan tidak terpengaruh dengan masuknya
budaya asing, sebaiknya ada perhatian, dukungan dan kebijakan mengenai
pelaksanaan upacara adat Karo dari pemerintah. Dengan demikian kebudayaan
daerah yang ada dapat dijadikan aset pemerintah dalam pengembangan kearifan lokal.
2.
Bagi masyarakat Desa Wonokitri
Untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan
daerah khususnya upacara adat Karo, sebaiknya dalam pelaksanaan upacara adat
Karo lebih mengutamakan persembahan untuk leluhur dari pada hidangan atau
makanan untuk tamu yang berkunjung ke
rumah, karena esensi dari upacara adat Karo adalah persembahan terhadap
leluhur.
3. Bagi
Pelaku Upacara
Dalam upaya
menciptakan masyarakat yang peduli terhadap buadaya daerah dan kearifan lokal,
sebaiknya ada pembinaan khusus terhadap generasi selanjutnya untuk ikut serta
dalam melestarikan dan mengembangkan upacara adat Karo tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar