Jumat, 02 Januari 2015

nilai-nilai upacara adat karo desa wonokitri/ tengger brang kulon

1.      Bentuk keyakinan  yang mendasari dilaksanakannya upacara adat Karo oleh masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Masyarakat Tengger Desa Wonokitri masih memegang teguh kepercayaan terhadap leluhur di mana masyarakat masih melaksanakan berbagai rangkaian upacara adat sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur dan untuk memohon keselamatan dalam hidup. Adapun salah satu upacara adat yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu upacara adat Karo yang dilaksanakan pada bulan kedua menurut kalender Suku Tengger yaitu bulan karo maka dari itu disebut upacara adat Karo. Adapun yang mendasari diksanakannya upacara adat Karo yaitu sebagai bentuk rasa hormat terhadap leluhur dalam hal ini antara manusia dan leluhur saling menjaga di mana bila tidak melaksanakan upacara adat Karo ada keyakinan bahwa akan sulit dalam hidupnya seperti gagal panen atau hasil panen tidak maksimal, adanya penyakit yang menyerang anggota keluarga dan lain sebagainya. Selain hal tersebut adapun hal yang mendasari dilaksanakannya upacara adat Karo Suku Tengger Desa Wonokitri yaitu melaksanakan ajaran agama Hindu yaitu ajaran Pitra Yadnya (korban suci yang tulus ikhlas kepada leluhur) yang merupakan bagian dari Panca Yadnya (lima korban suci yang tulus ikhlas). Dan melaksanakan kebiasaan leluhur yang telah turun temurun dilaksankan.
Dalam upacara adat Karo masyarakat Tengger Desa Wonokitri tidak mengenal adanya sanksi dari seama manusia ataupun dari kepala adat tetapi meyakini adanya sanksi yang diyakini dan tertanam dalam diri masyarakat bahwa kalau tidak melaksankan upacara adat Karo akan ada malapetaka ataupun wabah penyakit, hasil panen tidak maksimal dan dalam kehidupan di masyarakat tidak harmonis.

2.   Prosesi Upacara Adat Karo Masyarakat Tengger Desa Wonokitri   
Proses upacara adat Karo meliputi beberapa tahap yaitu (1) pembukaan upacara adat Karo, (2) Santi/ Dederek, (3) Kondangan, (4) Nelasih dan (5) penutupan upacara adat Karo. Rangkaian proses tersebut tidak boleh ada satupun yang dihilangkan karena setiap rangkaian memiliki maksud dan tujuan masing-masing. 

3.      Makna Upacara Adat Karo Bagi Masyarakat Tengger Desa Wonokitri
Dari legenda yang berkembang di masyarakat mengenai upacara adat Karo yang tidak terlepas dari sosok Joko Seger dan Roro Anteng memberikan pemahaman kepada masyarakat Tengger khususnya masyarakat Desa Wonokitri bahwa di luar kehidupan manusia ada kehidupan lain yang saling mempengaruhi. Di mana perilaku manusia dapat mempengaruhi kehidupan di luar dunia manusia begitupun sebaliknya. Maka dari itu dalam upacara adat Karo bukan hanya sekedar upacara yang dilaksanakan setiap tahun tetapi memiliki makna yang lebih luas yaitu adanya persembahan terhadap leluhur yang merupakan wujud bakti masyarakat terhadap leluhur dan dengan upacara adat Karo masyarakat Tengger khususnya masyarakat Desa Wonokitri dapat mempererat persaudaraan antar warga dengan melakukan kunjungan ke rumah sanak saudara untuk meminta maaf dan memohon doa untuk ke depannya. Dalam hal memohon maaf masyarakat Desa Wonokitri tidak terbiasa memohon maaf dengan kata-kata tetapi dengan memakan makan yang telah disiapkan, maka dengan memakan makanan yang telah disiapkan dapat diartikan sudah melupakan semua kesalahan yang diperbuat sengaja maupun tidak disengaja. sehingga dapat dikatakan bahwa ada implementasi nilai-nilai moral dalam pelaksanaan upacara adat Karo.
4.   Implementasi Nilai-nilai Moral Dalam Pelaksanaan Upacara Adat Karo
Dalam upacara adat Karo terkandung nilai-nilai yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. nilai-nilai tersebut seperti adanya kunjungan ke rumah sanak saudara untuk meminta maaf dan memohon doa untuk ke depannya supaya kehidupan bisa lebih baik. Dalam hal memohon maaf masyarakat Tengger tidak terbiasa dengan memohon maaf dengan kata-kata, tetapi permohonan maaf tersebut disimbolkan dengan memakan makanan yang disediakan oleh tuan rumah. Pada hari-hari biasa juga ada kunjungan atau sekedar bertamu ke rumah sanak saudara tetapi berbeda dengan pada saat upacara adat Karo, pada hari raya Karo kunjungan ini dikhususkan untuk memohon maaf tanpa harus membedakan golongan maupun agama sehingga pada kehidupan selanjutnya terjalin kerukunan dan kehidupan yang harmonis. Kunjungan ke rumah sanak saudara untuk memohon maaf ini hanya dilakukan pada saat upacara adat Karo saja. Dan ini memnjadi salah satu ciri upacara adat Karo ysng membedakan dengan upacara adat lainnya.

5.2 Saran
1. Bagi Pemerintah
Supaya kebudayaan tradisional Tengger yang ada di Pasuruan dapat berkembang dan tidak terpengaruh dengan masuknya budaya asing, sebaiknya ada perhatian, dukungan dan kebijakan mengenai pelaksanaan upacara adat Karo dari pemerintah. Dengan demikian kebudayaan daerah yang ada dapat dijadikan aset pemerintah  dalam pengembangan kearifan lokal.

2. Bagi masyarakat Desa Wonokitri
Untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan daerah khususnya upacara adat Karo, sebaiknya dalam pelaksanaan upacara adat Karo lebih mengutamakan persembahan untuk leluhur dari pada hidangan atau makanan untuk tamu yang berkunjung  ke rumah, karena esensi dari upacara adat Karo adalah persembahan terhadap leluhur.



3.      Bagi Pelaku Upacara

Dalam upaya menciptakan masyarakat yang peduli terhadap buadaya daerah dan kearifan lokal, sebaiknya ada pembinaan khusus terhadap generasi selanjutnya untuk ikut serta dalam melestarikan dan mengembangkan upacara adat Karo tersebut.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar